Tren gaya hidup sehat seringkali disalahpahami oleh sebagian besar masyarakat yang mendambakan hasil instan. Istilah healing yang seharusnya merujuk pada proses pemulihan, justru sering berujung pada kondisi yang memperburuk kesehatan akibat mengikuti tren tanpa landasan medis. STIKES Badung baru-baru ini melakukan bedah kasus mengenai fenomena diet detoksifikasi ekstrem yang banyak dipromosikan oleh pembuat konten di media sosial. Banyak individu yang terjebak dalam pola makan yang sangat restriktif, percaya bahwa mereka sedang membuang racun, padahal secara biologis mereka sedang menyiksa organ dalam sendiri.
Dampak dari diet detox viral ini seringkali tidak terlihat di permukaan pada hari-hari pertama. Penurunan berat badan yang drastis biasanya hanya merupakan kehilangan cairan tubuh dan massa otot, bukan lemak jahat. Tubuh manusia sebenarnya sudah memiliki sistem detoksifikasi alami yang sangat canggih melalui hati dan ginjal. Ketika seseorang hanya mengonsumsi jenis cairan tertentu dalam jangka waktu lama, tubuh akan mengalami defisit nutrisi esensial yang memicu stres metabolik. Bukannya mendapatkan kebugaran, banyak warga di wilayah Badung yang justru mengeluhkan pusing, lemas, hingga gangguan elektrolit yang membahayakan fungsi jantung.
Masyarakat perlu memahami perbedaan antara healing yang sesungguhnya dengan praktik penyiksaan diri atas nama kecantikan. Tim peneliti di STIKES menekankan bahwa mengonsumsi jus sayuran memang baik, namun menjadikannya sebagai satu-satunya sumber energi adalah kesalahan besar. Tanpa asupan protein dan lemak sehat yang cukup, regenerasi sel akan terhambat. Diet yang terlalu ketat juga dapat merusak kesehatan mental, memicu obsesi berlebihan terhadap makanan (orthorexia), yang pada akhirnya membuat seseorang merasa tertekan secara psikologis di tengah niatnya untuk menjadi lebih sehat.
Bahaya lain dari diet detox viral adalah penggunaan obat pencahar atau suplemen pembersih usus yang tidak jelas izin edarnya. Penggunaan zat-zat ini secara sembarangan dapat merusak flora normal di dalam usus dan menyebabkan ketergantungan sistem pencernaan. Para akademisi di Badung menyarankan agar masyarakat kembali ke prinsip gizi seimbang yang sudah teruji secara klinis. Pemulihan kesehatan tidak bisa dilakukan melalui jalan pintas; diperlukan konsistensi dalam mengatur pola makan, durasi istirahat, dan manajemen stres yang baik untuk mencapai kesejahteraan fisik yang berkelanjutan.
